Mentari bersinar terik, menggeliat-geliat resah mengiringi detik-detik
dunia yang semakin lama semakin panas dengan begitu banyak pergeseran
nilai terjadi di masyarakat. Termasuk di dalamnya pergeseran moralitas
para calon ibu yang notabene mempunyai tugas sebagai rahim peradaban.
Saat konsumsi para penentu generasi itu kini berubah menjadi semakin
tidak jelas. Saat media yang bertebaran di masyarakat adalah informasi
yang bisa dinilai jauh dari nilai-nilai Islam. Mau bagaimana, konsumsi
para gadis dan Ibu zaman sekarang ini didominasi oleh rangsangan
syahwat, gosip-gosip yang pada dasarnya adalah sebuah dosa bernama
ghibah, dan tampilan-tampilan yang makin menyuburkan pola pikir berbasis
penampilan fisik belaka. Bagaimanapun mata ini tak dapat ditipu saat
kenyataan di lapangan begitu asyik menampilkan fenomena-fenomena yang
sangat mengerikan. Betapa banyak perempuan yang dengan rela menampilkan
bagian-bagian tubuhnya yang sebenarnya terlalu berharga untuk diumbar
murahan seperti itu kepada setiap orang. Tak ayal lagi, para laki-laki
pun yang pada fitrahnya mempunyai kesenangan terhadap lawan jenis
seakn-akan terangsang. Akhirnya mata tak terjaga, hati terabaikan dan
akhirnya rela berbuat dosa memenuhi kepuasan hawa nafsunya. Lupa mereka
pada Allah Swt yang sudah memperingatkan seluruh manusia dari berbagai
kemungkinan yang ada. Kesalahan-kesalahan fatal pun terjadi saat ruh
memutuskan untuk memilih hawa nafsu dan syetan sebagai kawan.
Apa yang menjadi awal mula pergeseran nilai yang pengaruhnya luar biasa
ini? Jawabannya sangat sederhana, yaitu pada saat manusia tak lagi
menghiraukan apa yang dikatakan oleh Rabbnya. Saat wanita-wanita zaman
skarang yang lebih disibukkan oleh pekerjaan menghias diri dan mencari
penghasilan tanpa tahu tugas hakikinya adalah sebagai penentu peradaban
dan pembentuk generasi harapan. Mau dibawa ke mana dunia ini saat
wanita-wanita yang akan menjadi calon ibu, tidak mempunyai perbekalan
memadai untuknya, anaknya, dan keluarganya mengahadapi dunia yang
semakin kejam ini?
Sedih saat menyadari bahwa justru sebagian besar penghuni neraka adalah
wanita. Padahal Allah dengan sangat teliti mengingatkan manusia
terutama wanita tentang segala kemungkinan yang ada. Termasuk pula pada
saat wanita bisa menjadi sumber malapetaka dunia. Dengan kelebihan yang
Allah anugerahkan kepada wanita, dan fitrah bagi seorang laki-laki yang
senang dengan lawan jenis. Perpaduan keduanya menentukan akan seperti
apa dunia setelah masa ini? Pada saat keduanya tak dapat menahan diri
dari belenggu hawa nafsunya, maka saat itulah dunia akan hancur.
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita
shalehah. Begitulah bunyi sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim. Hadits
ini mengungkapkan seberapa berharganya seorang perempuan dengan
keshalehannya. Seorang wanita dengan tangannya, dengan hati dan
fikirannya dan potensi kefahaman yang didasarkan pada aqidah yang kuat
kepada Sang Mushawwir, bisa mengubah dunia. Pemuda-pemuda yang kelak
dilahirkannya dengan pendidikan berbasis keislaman yang Haq bisa menjadi
para mujahid-mujahidah, para ruhul jadid yang siap mengorbankan jiwa
dan raganya untuk kejayaan Islam. Dan sebaliknya, saat wanita tidak
berada pada jalan yang di dalamnya terdapat pembinaan keislaman, para
pemuda yang dilahirkannya bisa jadi malah menjadi generasi sampah yang
justru menjadi musuh Islam karena pikiran-pikiran sekularisme yang
begitu melekat dalam diri mereka, sehingga mereka tidak rela Islam tegak
karena akan menghalangi hawa nafsu mereka terlampiaskan.
Menjadi seorang muslimah yang Allah cintai adalah pilihan satu-satunya
bagi para wanita untuk bisa menembus segala yang terjadi sekarang dan di
masa depan dan menyongsong kehidupan abadi di akhirat. Sebuah kehidupan
kekal yang hanya Dia janjikan kepada hamba-Nya baik laki-laki maupun
perempuan yang sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya, memenuhi segala
perintah-Nya dan menjadi salah seorang tentara pilihan-Nya dalam upaya
penegakan Islam di hati seluruh manusia. Lalu apa sebenarnya yang harus
dilakukan sementara dunia semakin kejam, hedonisme merajalela di
mana-mana, kompetisi yang semakin menjadi dengan kapitalis sebagai biang
keroknya. Selain itu, feminisme semakin merebak di masyarakat, dan
ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang mencekik leher. Semuanya
merupakan tantangan tersendiri bagi seorang perempuan muslimah dalam
perjalanannya menjemput jannah Rabb tercintanya.
Pembinaan dan penjagaan yang menjadi bekal kekuatan para wanita muslimah
menjalankan fungsinya sebagai rahim peradaban. Tentunya peradaban Islam
yang agung dan berkeimananlah yang diusung oleh para calon Ibu ini.
Kekuatan dari pembinaan dan penjagaan ini adalah milik Allah semata, dan
Allah pula yang akan menentukan kekuatan-Nya akan diberikan kepada
siapa. Selama para wanita berada pada koridor-koridor yang Allah
tentukan, misalnya kepatuhan dalam melaksanakan ayat–ayat Al-Quran dan
menjauhi larangan-larangan yang sudah ditentukan. Allah juga yang akan
menilai keteguhan para muslimah dalam memegang prinsip yang haq dan
dengan mudahnya Dia akan memberikan kekuatan-Nya kepada sosok Sang
Pembentuk Peradaban ini.
Banyak hal yang harus diperhatikan seorang wanita muslimah, lihat saja
betapa banyak ayat Al-Quran yang Allah siapkan khusus untuk wanita.
Betapa Islam begitu menghargai para wanita, sangat berbeda dengan pola
pikir yang dijalankan umat Yahudi. Betapa Allah menjaga kesucian wanita
dengan memerintahkan wanita untuk menutup aurat, menundukan pandangan,
dan menjaga hijab. Aturan-aturan yang Allah buat tidak malah mengekang
kebebasan wanita dalam mengembangkan potensi diri, malahan dengan
peraturan-peraturan itu, wanita terjaga fitrah kewanitaannya.
Sudah banyak contoh yang disebutkan Allah. Lihatlah Siti Khadijah, ibu
kaum muslimin ini begitu mulia akhlaknya dan utama perilakunya,
sampai-sampai Rasul begitu mencintainya walaupun beliau sudah tiada.
Lihatlah begitu cerdasnya Aisyah Binti Abu Bakar, seorang istri yang
begitu lembut dan setia menemani perjuangan Rasul dan berperan juga
sebagai sumber hadits. Lihat pula kisah Asma Binti Abu Bakar, Fatimah
Binti Muhammad, Ibnu Haritsah, Ummu Sulaim, Ummu Salamah, Ummu Athiyah,
Rufaidah dan shahabiyah-shahabiyah lain yang begitu luar biasa
keteguhannya dalam menjalankan syariat Islam dalam kehidupan di masanya
sampai risalah itu datang kepada kita sekarang.
Bagaimanapun, sampainya risalah ini kepada kita sebagai orang-orang yang
hidup di zaman sekarang, selain merupakan kehendak Allah Yang Maha
Kuasa atas segalanya, juga karena adanya keinginan yang tersembul di
hati para shahabiyah itu untuk meneruskan perjuangan mereka sampai zaman
sekarang ini. Benar bahwa wanita adalah rahim peradaban. Peradaban akan
terbentuk sesuai dengan karakter wanita yang ada pada zaman tersebut.
Sekarang, setelah pemaparan ini, adalah pilihan kita untuk meneruskan
estafet perjuangan yang sudah dimulai Rasulullah beserta rengrengan
sahabat dan shabiyah pada zaman pertama atau kita memutuskan untuk hanya
menjadi sorang penonton saja? Wanita, dengan kekuatan yang Allah
berikan kepadanya bisa menjadi penentu peradaban dengan melahirkan
putra-putri pengusung Islam atau justru menjadi sumber malapetaka
pengundang kemurkaan Allah. Dan jika para wanita sudah memutuskan untuk
tergabung dengan barisan para mujahid perindu Surga, adalah kewajiban
mereka untuk menjadi obat masyarakat kita yang sakit ini….
" Ayo Ukhti, surga di depan kita. Sudah saatnya bergerak, mari jemput
surga kita dengan menjadi pembentuk peradaban Islam sejati yang
melahirkan generasi-generasi pembaharu yang dalam dadanya tertancap
kekuatan Iman dan semangat yang menyala-nyala dalam menegakkan Islam di
hati manusia dan setiap jengkal tanah di muka bumi.
*‘Isy
kariman aumut syahidan*
Wallahu’alam Bis Shawab, semoga Allah meridhai..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Yukk!!!