Assalamualaikum.....

kupu2

My Site

Hi Ahlan Wasahlan, You are welcome to my site.....


Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2011

Melihat Kebaikan di Segala Hal

... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
(al-Baqarah: 216)

Sebenarnya, melihat kebaikan dalam segala hal merupakan ungkapan yang biasa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, orang sering mengatakan, "Pasti ada kebaikan (hikmah) di balik kejadian ini," atau, "Ini merupakan berkah dari Allah."
Biasanya, banyak orang mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami arti sebenarnya atau semata-mata hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang tidak ada maknanya. Kebanyakan mereka gagal memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan-ungkapan tersebut atau bagaimana pemahaman itu dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya, kebanyakan manusia tidak sadar bahwa ungkapan-ungkapan tersebut tidak sekadar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kejadian sehari-hari.
Kenyataannya, kemampuan melihat kebaikan dalam setiap kejadian, apa pun kondisinya-baik yang menyenangkan maupun tidak-merupakan kualitas moral yang penting, yang timbul dari keyakinan yang tulus akan Allah, dan pendekatan tentang kehidupan yang disebabkan oleh keimanan. Pada akhirnya, pemahaman akan kebenaran ini menjadi sangat penting dalam menuntun seseorang tidak hanya untuk mencapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat, tetapi juga juga untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tak akan berakhir.
Tanda pemahaman yang benar akan arti iman adalah tidak adanya kekecewaan akan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi dan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan sentimentalisme, ini menunjukkan kurangnya kemurnian iman. Kebingungan ini harus segera dienyahkan dan kesenangan yang berasal dari keyakinan yang teguh harus diterima sebagai bagian hidup yang penting. Orang yang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya. Jika ia menyebutnya sebagai "kemalangan", "kesialan", atau "seandainya", ini hanyalah untuk menarik pelajaran dari sebuah pengalaman. Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi. Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Bagaimanapun juga, jika ia jatuh dalam kesalahan yang sama, ia ingat bahwa semuanya memiliki maksud tertentu dan mudah saja memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam kesempatan mendatang. Bahkan jika hal yang sama terjadi puluhan kali lagi, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa tersebut adalah untuk kebaikan dan menjadi hak Allah yang kekal. Kebenaran ini juga dinyatakan secara panjang lebar oleh Nabi saw.,
"Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula." (HR Muslim)
Hanya dalam kesadaran bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik sajalah hati seseorang akan menemukan kedamaian. Adalah sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman bila ia memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Seseorang yang jauh dari Islam akan menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Ia terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Di sisi lain, orang beriman menyadari dan menghargai kenyataan bahwa ada tujuan-tujuan Ilahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.
Karena itu, adalah memalukan bagi orang beriman bila ia ragu-ragu dan ketakutan terus-menerus karena selalu mengharapkan kebaikan dan kejahatan. Ketidaktahuan terhadap kebenaran yang jelas dan sederhana, kekurangtelitian, dan kemalasan hanya akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Kita harus ingat bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah benar-benar sempurna. Jika seseorang menyadari adanya kebaikan dalam setiap hal, dia hanya akan menemukan karunia dan maksud Ilahiah yang tersembunyi di dalam semua kejadian rumit yang saling berhubungan. Walau ia mungkin memiliki banyak hal yang mesti diperhatikannya setiap hari, seseorang yang memiliki iman yang kuat-yang dituntun oleh kearifan dan hati nurani-tidak akan membiarkan dirinya dihasut oleh tipu muslihat setan. Tak peduli bagaimanapun, kapan pun, atau di mana pun peristiwa itu terjadi, ia tidak akan pernah lupa bahwa pasti ada kebaikan di baliknya. Walaupun ia mungkin tidak segera menemukan kebaikan tersebut, apa yang benar-benar penting baginya adalah agar ia menyadari adanya tujuan akhir dari Allah.
Berkaitan dengan sifat terburu-buru manusia, mereka kadang-kadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih agresif dan nekat dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. Di dalam Al-Qur`an, hal ini disebutkan,
"Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (al-Israa`: 11)
Meski demikian, seorang hamba harus berusaha melihat kebaikan dan maksud Ilahiah dalam setiap kejadian yang disodorkan Allah di depan mereka, bukannya memaksa untuk diperbudak oleh apa yang menurutnya menyenangkan dan tidak sabar untuk mendapatkan hal itu.
Walau seseorang berusaha untuk mendapatkan status finansial yang lebih baik, perubahan itu mungkin tidak pernah terwujud. Tidaklah benar jika seseorang menganggap suatu kondisi itu merugikan. Tentu saja seseorang boleh berdo'a kepada Allah untuk mendapatkan kekayaan jika kekayaan itu digunakan di jalan Allah. Bagaimanapun juga, ia harus mengetahui bahwa jika keinginannya itu tidak dikabulkan Allah, itu disebabkan alasan tertentu. Mungkin saja bertambahnya kekayaan sebelum matangnya kualitas spiritual seseorang dapat mengubahnya menjadi orang yang gampang diperdaya oleh setan. Banyak alasan Ilahiah lainnya-di antaranya tidak langsung disadari atau hanya akan terlihat di akhirat-dapat mendasari terjadinya sebuah peristiwa. Seorang usahawan, misalnya, bisa saja tertinggal sebuah pertemuan yang akan menjadi pijakan penting dalam kariernya. Akan tetapi, jika saja pergi ke pertemuan itu, ia bisa tertimpa kecelakaan lalu lintas, atau jika pertemuannya diadakan di kota lain, pesawat yang ditumpanginya bisa saja jatuh.
Tak ada seorang pun yang kebal terhadap segala peristiwa. Biasakanlah untuk melihat bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya terlihat merugikan. Meski demikian, seseorang perlu ingat bahwa ia tidak akan selalu dapat mengetahui maksud sebuah peristiwa adalah sesuatu yang merugikan. Ini karena, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, kita tidak selalu beruntung dapat melihat sisi positif yang muncul. Mungkin juga Allah hanya akan menunjukkan maksud keilahian-Nya di akhirat nanti. Karena alasan itulah, yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyerahkannya pada takdir Allah dan memberikan kepercayaannya kepada Allah adalah menerima setiap kejadian itu-apa pun namanya-dengan keinginan untuk mencari tahu bahwa pastilah ada kebaikan di dalamnya dan kemudian menerimanya dengan senang hati.
Harus disebutkan juga bahwa melihat kebaikan dalam segala hal bukan berarti mengabaikan kenyataan dari peristiwa-peristiwa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi, atau mungkin menjadi sangat idealis. Sebaliknya, orang beriman bertanggung jawab untuk mengambil tidakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Kepasrahan orang yang beriman tidak boleh dicampuradukkan dengan cara orang lain, yang karena pemahaman yang tidak sempurna tentang hal ini, mereka tetap saja tidak acuh terhadap apa pun yang terjadi di sekitar mereka dan optimis tetapi tidak realistis. Mereka tidak bisa membuat keputusan yang rasional ataupun menjalankan keputusan tersebut. Ini dikarenakan yang ada pada mereka adalah optimistis yang melenakan dan kekanak-kanakan, bukan mencari pemecahan masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit yang serius, keadaannya saat itu mungkin paling parah sampai pada titik fatal yang diabaikannya selama masa pengobatan. Contoh lainnya, jika seseorang tidak menyadari pentingnya mengamankan harta bendanya, walau ia pernah mengalami pencurian, besar kemungkinan akan menjadi korban lagi dari kejadian serupa itu.
Pastilah cara-cara tersebut jauh dari sikap menaruh kepercayaan kepada Allah dan dari "melihat kebaikan dalam segala hal". Pada hakikatnya, sikap tersebut berarti ceroboh. Kebalikannya, orang yang beriman harus berusaha mengendalikan situasi sepenuhnya. Pada dasarnya, sikap yang menuntun diri mereka ini adalah suatu bentuk "penghambaan", karena ketika mereka terlibat dalam situasi tersebut, pikiran mereka dikuasai oleh ingatan akan kenyataan bahwa Allahlah yang membuat peristiwa itu terjadi.
Di dalam Al-Qur`an, Allah menghubungkan kisah para nabi dan orang beriman sebagai contoh bagi mereka yang sadar akan hal ini. Inilah yang harus diteladani oleh seorang mukmin. Sebagai contoh, sikap yang merupakan respons Nabi Huud terhadap kaumnya menunjukkan penyerahan total dan rasa percayanya yang kokoh kepada Allah, walaupun ia mendapatkan perlakuan yang buruk.
"Kaum 'Aad berkata, 'Wahai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.' Huud menjawab, 'Sesungguhnya, aku menjadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.' Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya, Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu." (Huud: 53-57)

Sabtu, 25 Desember 2010

^_CANTIK_^


Bayangkan kalo setiap kali kamu ketemu dengan orang lain dan sebagian mereka menyebutkan sebuah kata menyenangkan di hadapanmu dengan mata berbinar-binar, bibir tersenyum manis dan nada yang riang. Apalagi kalo yang diucapkan tersebut kalimat-kalimat seperti “hai,cantik !”, “kamu cantik, deh!” dan seterusnya.Siapa sih perempuan yang gak seneng ? Walaupun ekspresinya berbeda-beda, pasti dalam hati kecil tiap perempuan senang luar biasa,deh. Bahkan saking kepengennya mendapatkan pujian terutama yang berhubungan dengan kecantikan banyak wanita yang menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga dan pikirannya untuk membuat penampilannya menjadi oke. Stereotip bahwa wanita biasanya lebih detil dan teliti akhirnya tidak berlaku ketika perempuan dihadapkan pada pilihan untuk mempercantik diri dengan berbagai sarana yang ada. Lihat aja contohnya kayak yang kemarin2 sering diberitakan di berbagai media, bahwa beredar berbagai produk kosmetik yang berbahaya dan juga mengandung bahan yang haram (secara,kita kan muslimah ya ..)
  Sehingga banyak yang wajah atau tubuhnya rusak karena ingin dibilang “cantik”.
          Dilihat dari sudut pandang psikologi, perkembangan karakteristik perempuan banyak terbentuk dari konstruksi sosial masyarakat tempat perempuan tersebut tinggal dan dibesarkan. Di mana pun perempuan berada maka ia akan menjalani dan berusaha hubungan interpersonal dengan perempuan lainnya, dengan situasi dan kondisi yang bervariasi. Hal ini disebabkan perempuan memilikihan kebutuhan untuk berafiliasi yang besar dengan anggota masyarakat lainnya terutama dengan sesama perempuan.Ketika perempuan berinteraksi, banyak hal yang dapat diperoleh, bukan hanya berkisar tentang hobi dan karir melainkan berbagi informasi mulai dari yang umum hingga masalah yang sangat pribadi. Oleh karena itu, perempuan memerlukan penerimaan diri yang besar dari lingkungannya.
Nah, salah satu cara yang dianggap efektif bagi sebagian besar perempuan untuk dapat diterima adalah dengan memiliki kecantikan yang sebagian besar diadopsi dari lingkungan, media dan perempuan itu sendiri. Misalnya bahwa perempuan yang cantik itu yang berleher jenjang, memiliki hidung mancung, berkulit putih, rambut hitam dan panjang, langsing, dan seterusnya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Golman dikatakan bahwa perempuan memiliki kecenderungan untuk mengadopsi pendapat pria tentang diri mereka atau perempuan lain. Bahkan dalam penelitian lainnya, ditemukan bahwa perempuan memiliki kecenderungan konsep diri yang negatif, harga diri yang rendah dan umumnya merendahkan kemampuan diri mereka sendiri. Hal ini bahkan terjadi ketika perempuan berhasil menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Kepercayaan diri yang rendah ini nantinya akan dapat menurunkan motivasinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan tertentu apalagi bila ia menilai tugas atau pekerjaan itu sulit untuk dilakukan.
Hah?! Kata siapa tuh, seenaknya aja, huh ! Eits, tenang dulu.. hal itu gak bakalan terjadi kok kalo perempuan memiliki penerimaan diri yang baik terhadap segala yang dimilikinya. Bila seorang perempuan sudah dapat menerima semua kelebihan dan kekurangan dirinya, ia tidak akan memikirkan bagaimana pendapat orang lain tentang dirinya seperti yang diungkapkan tokoh yang terkenak dengan teori piramida kebutuhan yaitu Maslow. Maka nya karena aku dan kamu muslimah, gak usah mikir2 lagi,kalo mau cantik..lihat aja rujukanya didalam Qur’an, yaitu BERSYUKUR. Bersyukur bahwa kamu diberikan wajah dan tubuh yang utuh dan proporsional bentuknya. Bersyukur bahwa kamu diberikan wajah dan tubuh yang sehat. Bersyukur karena wajah dan tubuh kamu bisa digunakan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Soalnya banyak kan orang yang sampe memiliki penyakit fisik dan atau mental gara-gara gak bersyukur dengan kecantikan alami yang udah Allah kasih ke perempuan tersebut. Mukanya hancur karena salah kosmetik, diopname gara2 diet ketat, doctor shopping karena selalu pengen dibilang cantik dan lain sebagainya.
So, kalo kamu kepengen dibilang cantik, pake aja cantik versi Islam. Dijamin deh gak bakalan nyesel. Emang apaan aja kriteria cantik versi Islam. LIhat aja dibawah ini :
Cantik = Shalihah
          Kalo kamu muslimah rajin beribadah dan taat pada Allah maka wajahmu akan bersinar cerah bak bulan purnama dan lampu neon karena besarnya energi kebaikan yang terpancar dari raut wajahmu; yang bersumber dari air wudhu yang selalu membasuh wajah dan anggota tubuhmu. Apalagi ditambah dengan perilaku yang santun, tutur kata yang lembut, senyum yang manis dan ekspresi wajah yang cerah. Dari jarak jauh aja kalo kamu itu berpredikat perempuan yang shalihah pasti langsung bikin aku silau !

Cantik= Cerdas
          Gak asik kan kalo penampilan kamu oke, pemahaman agamanya mantap tapi kalo ngobrol gak nyambung ? Yup,cerdas disini bukan berarti perempuan harus punya banyak piala dan cv yang bagus. Cerdas disini berarti kamu bisa mengenali dirimu, menggali dan mengembangkan potensi dirimu untuk keluarga dan umat, apapun bidangnya. Empat hal yang penting menjadi kemampuan dasar muslimah yaitu public speaking, menulis dan penguasaan teknologi, interpersonal skill, minimal yang dasar-dasarnya lah ! Makin keren lagi kalo semua itu ditambah dengan keberhasilan kamu dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak dalam keluarga. Excellent !
Cantik= BeRaS
          Kok beras,sih? Gak nyambung banget ! Sabar atuh, neng..maksud aku tuh bukan beras yang dimasak jadi nasi tapi BeRaS disini singkatan dari bersih, rapi dan sehat. Dalam Islam, bersih, rapi dan sehat sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim/ah tanpa terkecuali. Selain itu, yang penting juga sesuai kebutuhan alias secukupnya aja penerapan dari BeRaS tadi. Maksudnya gimana ? Yah, yang namanya bersih berarti mandi minimal dua kali sehari, ganti baju, cuci muka, gosok gigi, bersih2 kamar dan ruangan di seluruh rumah, dan lain seterusnya. Kalo bajunya selalu bersih, gak perlu sering2 beli baju baru,kan ? Rapi misalnya bajunya gak lecek, motifnya gak tabrakan, sesuai aturan pakaian muslimah, punya jadwal tugas dan acara, barang2 ada di tempatnya masing2, dan seterusnya. Sehat misalnya makan dan minum yang sehat (soda, junkfood, teh, kopi,gorengan sesekali aja, jangan keseringan),berolahraga ringan tiap hari, bersyukur dan bersabar, pemaaf, puasa sunnah, dsb

          Nah, kalo pake kriteria cantik yang diatas Insya Allah kamu akan punya penerimaan diri yang baik karena kata Allah barang siapa yang bersyukur pasti akan ditambah nikmatNya.  Oiya, tentunya juga dengan tetap menyesuaikan dengan karakter diri kamu supaya semua proses menjadi cantik tadi bisa berjalan maksimal dan optimal. Setelah itu, kamu boleh kok dengan lantang dan riang bilang “Aku Cantik ! ” dan kalo aku ketemu kamu pasti akan aku panggil dengan sapaan “Cantik”          
                                                                           


Dec 30, 2008 in Coret2an Muslimah

Minggu, 01 Agustus 2010

Siapakah Wanita itu???




Wanita sebuah istilah yang banyak kontroversial di setiap seluk beluk kehidupannya , wanita dia memiliki kelebihan yang sangat berpengaruh. Dia bak permata cantik tat kala iman dan amal sholeh bersemayam pada dirinya. Dan diapun akan berubah menjadi seekor binatang yang lebih buas ketika tidak ada iman dalam dirinya. Seumpama wanita ada pada suatu Negara maka wanita itulah penentu baik-buruk Negara tersebut, Sebagaimana seorang Alim Bijak berkata: “ Wanita adalah tiang Negara apabila wanita itu baik(iman&amal sholeh)maka baik pulalah Negara tersebut, namun apabila wanita itu bejat(tanpa iman)maka akan hancurlah Negara tersebut secara perlahan.”
Adapun di tegaskan oleh Allah dalam Qs Ali-imron:14, Bahwasanya, “Dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-prempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk, emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Dari ayat diatas kita telah dapat ambil kesimpulan bahwasannya Allah telah menetapkan wanita di tinggkat pertama sebagai mataul hayati dunya( permata dunia).
Adapun Allah sangat mengagungkan wanita sehingga nama wanita menjadi salahsatu bagian dari surat Al-Quran yaitu An-nissa. Sungguh agung keberadaan wanita namun semua itu tidak dapat di lihat pada wanita zaman sekarang ini kecuali sedikit.                                                  
Dan ingatlah sebelum datangnya islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. bagaimana keadaan wanita, Wanita padaa saat romawi kuno mereka dihinakan sehingga sedikit sekali bayi wanita yang lahir kedunia hidup sampai dewasa. Ayah-ayah mereka malu karna mereka anggap wanita pembwa bencana, wanita hanya sebagai cobaan bagi keluarga mereka sehingga kadang wanita yang  baru lahir kedunia tidak segan-segannya dikubur  hidup-hidup, nauzubillah.
Sekarang kita pelajari bagaimana wanita zaman sekarang setelah datangnya islam dan eranya globalisasi, Apakah  wanita-wanita tetap sebagai perhiasan yang di jual mahal, dilindungi kaca nako yang kokoh dan terlihat cantik sehingga banyak pemuja yang berharap memilikinya??? Atau Apakah wanita sekarang sudah menjadi perhiasan yang murahan atau imitasi yang di jual di pinggir jalan tanpa susah payah di dapatkan dan malah kadang kita temui di sembarang tempat seperti layaknya sampah yang berceceran??? Sudahkah kita sadari hal itu..

Tahukah kalian siapa wanita yang layaknya Perhiasan dunia, Apakah kalian mengira dia seorang Artis cantik yang selalu tampil di layar televisi kita, Apakah dia seorang yang memiliki tubuh seksi dan uang banyak, atau apakah ia seorang yang mengenakan baju you can see di jalan-jalan sehingga enak di lihat mata-mata galak, apakah dia wanita carier yang menghasilkan banyak uang, apakah dia wanita yang selalu pergi pagi pulang malam, Apakah mereka wanita yang memiliki jenjang sekolah yang tinggi, atau merekalah si penyanyi yang suaranya indah didengar telinga!! Salah, salah sekali jika kalian mengira merekalah si perhiasan dunia, Perhiasan dunia adalah wanita yang dapat menjaga dirinya dari pengaruh-pengaruh budaya barat, baju seksi, kerja pergi pagi pulang malam, telantarkan anak, yang selalu show ingin tampil diatas panggung hiburan dilihat mata-mata liar, nauzubillah ekspresi dari sebuah Emansipasi.
Wanita sholehah adalah yang dapat menyadari keterbatasan dirinya, yang mana seorang wanita lebih lemah dari laki2. Sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam surat An-nisa ayat 34 : “ Seorang laki-laki adalah pelindung bagi perempuan……”
Dan wanita sholehah dialah yang thaat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya serta memelihara dirinya, caranya yaitu dengan Menutup aurat (adalah batasan tertutup kecuali muka dan telapak tangan, yang Allah perintahkan kepadanya agar dirinya terjaga dari fitnah atau cobaan yang akan tertimpa pada dirinya) sebagaimana Rosululloh memerintahkan kepada istrinya dan anak-anak prempuannya, serta wanita-wanita mukmin umumnya agar mereka menutup auratnya dengan jilbab (baju kurung yang lapang yang dapat menutup seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan) karna yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenal dan mereka tidak diganggu. Qs. Al-ahzab:59
                Dan pastinya, kita akan bertanya-tanya apa tugas wanita sholehah yang di banggakan rosululloh yang katanya dapat merubah dunia itu, taukah kalian. Tugas yang begitu mulia yang Allah berikan maddah langsung kepada seorang wanita atau ibu adalah mendidik anak nya dari si anak masih menjadi cabang bayi yang di titipkan pada rahim seorang ibu sehingga menjadi anak yang dewasa. Karna pada diri ibu terdapat kasih saying, kelemah lembutan dan perhatian yang lebih di banding laki-laki.
                Adakah kalian menyadarinya??? Seorang anak yang sholeh yang cerdas dan menjadi berhasil mencapai kecakapan dunia dan kebaikan agamanya adalah buah dari didikan seorang ibu yang sholehah. ibu yang dengan belaiannya menanamkan aqidah ketauhidan, Ibu yang dengan lembutnya mengajari anak berlaku sopan, ibu yang dengan kasih sayangnya mendidik keperibadian, ibu yang dengan kecerdasanya melatih kegigihan. Ibu yang dengan tegasnya melatih kedisiplinan. Dialah ibu yang mencetak generasi Robbani yang sangat dimuliakan Allah.
                Namun yang menjadi pertanyaan di dunia saat ini kenapa wanita ikut berpartisipasi berperan ingin sekali disamakan hak dan kewajibanya sebagaimana laki-laki (Emansipasi)???
Padahal sudah jelas dalam QS. Annisa ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain . (karna) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
                Wahai wanita jadilah kau wanita carier seperti peran wanita pada masa Rosululloh, sebagimana Siti Khodijah r.a, gelar yang di akhir namanya adalah “rodiyallohu anhu” yang di beri langsung oleh Allah SWT atas kemahirannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Dan sebagaimana Aisyah r.a, gelarnya pun langsung diberikan oleh Allah SWT karna dialah wanita yang sangat menyenangkan hati suaminya. Dan sebagaimana Fatimah Zahra r.a, yang mana dialah putri kebanggaan Rosululloh karna cerdasnya, dan thaatnya kepada perintah Allah, sehingga menyenangkan hati Rosululloh dan keluarganya. Dan sebagaimana Asma binti Abu Bakar dia adalah gadis yang tangguh dan pemberani, dia gadis yang kuat dan cerdas, sehingga patut menjadi teladan bagi para gadis.
                 Sebagian daripada wanita teladan yang telah di ungkapkan sedikit di atas semoga menjadi inspirasi kita untuk melihat kembali siroh dan perjalanan mereka. Dan dapat mencontoh mereka agar kita sebagai wanita muslimah yang hendak mendapatkan gelar dimata Allah sebagaimana mereka, setidaknya kita mendapatkan gelar wanita sholihah walau tidak sepenuhnya yang mereka dapat langsung dari Allah SWT.
                Berusaha menjadi terbaik adalah suatu hal yang membanggakan di banding tidak berusaha sama sekali, atau malah mencari solusi yang salah karna dilihat lebih mudah, naudzubillah. Sebagai wanita muslimah semoga kita memiliki diri yang tangguh dan kokoh serta berpengetahuan luas akan Dinul Islam, agar pengaruh besar yang ada disekeliling kita dapat dengan mudah kita seleksi dengan mata padang islam.
                Semoga kebaikan dan hidayahnya terlimpahkan kepada kita semua, Amiiinnn
By.UBKF.COM

Senin, 28 Juni 2010

Wanita muslimah… ada apakah dengan dirinya??

Mentari bersinar terik, menggeliat-geliat resah mengiringi detik-detik dunia yang semakin lama semakin panas dengan begitu banyak pergeseran nilai terjadi di masyarakat. Termasuk di dalamnya pergeseran moralitas para calon ibu yang notabene mempunyai tugas sebagai rahim peradaban.

Saat konsumsi para penentu generasi itu kini berubah menjadi semakin tidak jelas. Saat media yang bertebaran di masyarakat adalah informasi yang bisa dinilai jauh dari nilai-nilai Islam. Mau bagaimana, konsumsi para gadis dan Ibu zaman sekarang ini didominasi oleh rangsangan syahwat, gosip-gosip yang pada dasarnya adalah sebuah dosa bernama ghibah, dan tampilan-tampilan yang makin menyuburkan pola pikir berbasis penampilan fisik belaka. Bagaimanapun mata ini tak dapat ditipu saat kenyataan di lapangan begitu asyik menampilkan fenomena-fenomena yang sangat mengerikan. Betapa banyak perempuan yang dengan rela menampilkan bagian-bagian tubuhnya yang sebenarnya terlalu berharga untuk diumbar murahan seperti itu kepada setiap orang. Tak ayal lagi, para laki-laki pun yang pada fitrahnya mempunyai kesenangan terhadap lawan jenis seakn-akan terangsang. Akhirnya mata tak terjaga, hati terabaikan dan akhirnya rela berbuat dosa memenuhi kepuasan hawa nafsunya. Lupa mereka pada Allah Swt yang sudah memperingatkan seluruh manusia dari berbagai kemungkinan yang ada. Kesalahan-kesalahan fatal pun terjadi saat ruh memutuskan untuk memilih hawa nafsu dan syetan sebagai kawan.

Apa yang menjadi awal mula pergeseran nilai yang pengaruhnya luar biasa ini? Jawabannya sangat sederhana, yaitu pada saat manusia tak lagi menghiraukan apa yang dikatakan oleh Rabbnya. Saat wanita-wanita zaman skarang yang lebih disibukkan oleh pekerjaan menghias diri dan mencari penghasilan tanpa tahu tugas hakikinya adalah sebagai penentu peradaban dan pembentuk generasi harapan. Mau dibawa ke mana dunia ini saat wanita-wanita yang akan menjadi calon ibu, tidak mempunyai perbekalan memadai untuknya, anaknya, dan keluarganya mengahadapi dunia yang semakin kejam ini?

Sedih saat menyadari bahwa justru sebagian besar penghuni neraka adalah wanita. Padahal Allah dengan sangat teliti mengingatkan manusia terutama wanita tentang segala kemungkinan yang ada. Termasuk pula pada saat wanita bisa menjadi sumber malapetaka dunia. Dengan kelebihan yang Allah anugerahkan kepada wanita, dan fitrah bagi seorang laki-laki yang senang dengan lawan jenis. Perpaduan keduanya menentukan akan seperti apa dunia setelah masa ini? Pada saat keduanya tak dapat menahan diri dari belenggu hawa nafsunya, maka saat itulah dunia akan hancur.

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalehah. Begitulah bunyi sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim. Hadits ini mengungkapkan seberapa berharganya seorang perempuan dengan keshalehannya. Seorang wanita dengan tangannya, dengan hati dan fikirannya dan potensi kefahaman yang didasarkan pada aqidah yang kuat kepada Sang Mushawwir, bisa mengubah dunia. Pemuda-pemuda yang kelak dilahirkannya dengan pendidikan berbasis keislaman yang Haq bisa menjadi para mujahid-mujahidah, para ruhul jadid yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk kejayaan Islam. Dan sebaliknya, saat wanita tidak berada pada jalan yang di dalamnya terdapat pembinaan keislaman, para pemuda yang dilahirkannya bisa jadi malah menjadi generasi sampah yang justru menjadi musuh Islam karena pikiran-pikiran sekularisme yang begitu melekat dalam diri mereka, sehingga mereka tidak rela Islam tegak karena akan menghalangi hawa nafsu mereka terlampiaskan.
Menjadi seorang muslimah yang Allah cintai adalah pilihan satu-satunya bagi para wanita untuk bisa menembus segala yang terjadi sekarang dan di masa depan dan menyongsong kehidupan abadi di akhirat. Sebuah kehidupan kekal yang hanya Dia janjikan kepada hamba-Nya baik laki-laki maupun perempuan yang sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya, memenuhi segala perintah-Nya dan menjadi salah seorang tentara pilihan-Nya dalam upaya penegakan Islam di hati seluruh manusia. Lalu apa sebenarnya yang harus dilakukan sementara dunia semakin kejam, hedonisme merajalela di mana-mana, kompetisi yang semakin menjadi dengan kapitalis sebagai biang keroknya. Selain itu, feminisme semakin merebak di masyarakat, dan ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang mencekik leher. Semuanya merupakan tantangan tersendiri bagi seorang perempuan muslimah dalam perjalanannya menjemput jannah Rabb tercintanya.

Pembinaan dan penjagaan yang menjadi bekal kekuatan para wanita muslimah menjalankan fungsinya sebagai rahim peradaban. Tentunya peradaban Islam yang agung dan berkeimananlah yang diusung oleh para calon Ibu ini. Kekuatan dari pembinaan dan penjagaan ini adalah milik Allah semata, dan Allah pula yang akan menentukan kekuatan-Nya akan diberikan kepada siapa. Selama para wanita berada pada koridor-koridor yang Allah tentukan, misalnya kepatuhan dalam melaksanakan ayat–ayat Al-Quran dan menjauhi larangan-larangan yang sudah ditentukan. Allah juga yang akan menilai keteguhan para muslimah dalam memegang prinsip yang haq dan dengan mudahnya Dia akan memberikan kekuatan-Nya kepada sosok Sang Pembentuk Peradaban ini.

Banyak hal yang harus diperhatikan seorang wanita muslimah, lihat saja betapa banyak ayat Al-Quran yang Allah siapkan khusus untuk wanita. Betapa Islam begitu menghargai para wanita, sangat berbeda dengan pola pikir yang dijalankan umat Yahudi. Betapa Allah menjaga kesucian wanita dengan memerintahkan wanita untuk menutup aurat, menundukan pandangan, dan menjaga hijab. Aturan-aturan yang Allah buat tidak malah mengekang kebebasan wanita dalam mengembangkan potensi diri, malahan dengan peraturan-peraturan itu, wanita terjaga fitrah kewanitaannya.

Sudah banyak contoh yang disebutkan Allah. Lihatlah Siti Khadijah, ibu kaum muslimin ini begitu mulia akhlaknya dan utama perilakunya, sampai-sampai Rasul begitu mencintainya walaupun beliau sudah tiada. Lihatlah begitu cerdasnya Aisyah Binti Abu Bakar, seorang istri yang begitu lembut dan setia menemani perjuangan Rasul dan berperan juga sebagai sumber hadits. Lihat pula kisah Asma Binti Abu Bakar, Fatimah Binti Muhammad, Ibnu Haritsah, Ummu Sulaim, Ummu Salamah, Ummu Athiyah, Rufaidah dan shahabiyah-shahabiyah lain yang begitu luar biasa keteguhannya dalam menjalankan syariat Islam dalam kehidupan di masanya sampai risalah itu datang kepada kita sekarang.

Bagaimanapun, sampainya risalah ini kepada kita sebagai orang-orang yang hidup di zaman sekarang, selain merupakan kehendak Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya, juga karena adanya keinginan yang tersembul di hati para shahabiyah itu untuk meneruskan perjuangan mereka sampai zaman sekarang ini. Benar bahwa wanita adalah rahim peradaban. Peradaban akan terbentuk sesuai dengan karakter wanita yang ada pada zaman tersebut.

Sekarang, setelah pemaparan ini, adalah pilihan kita untuk meneruskan estafet perjuangan yang sudah dimulai Rasulullah beserta rengrengan sahabat dan shabiyah pada zaman pertama atau kita memutuskan untuk hanya menjadi sorang penonton saja? Wanita, dengan kekuatan yang Allah berikan kepadanya bisa menjadi penentu peradaban dengan melahirkan putra-putri pengusung Islam atau justru menjadi sumber malapetaka pengundang kemurkaan Allah. Dan jika para wanita sudah memutuskan untuk tergabung dengan barisan para mujahid perindu Surga, adalah kewajiban mereka untuk menjadi obat masyarakat kita yang sakit ini….

" Ayo Ukhti, surga di depan kita. Sudah saatnya bergerak, mari jemput surga kita dengan menjadi pembentuk peradaban Islam sejati yang melahirkan generasi-generasi pembaharu yang dalam dadanya tertancap kekuatan Iman dan semangat yang menyala-nyala dalam menegakkan Islam di hati manusia dan setiap jengkal tanah di muka bumi.

*‘Isy kariman aumut syahidan*

Wallahu’alam Bis Shawab, semoga Allah meridhai..

Rabu, 28 April 2010

Manusia Sebagai Kholifah di Muka Bumi


“ Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat (tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Qs. 33:72)
Dalam Ayat di atas telah jelas bahwa Manusialah yang memikul amanat sebagai kholifah  dimuka bumi yaitu menjalankan tugas-tugas keagamaan dengan menegakkan Dinulloh(Agama Allah) yang benar(Al-Haq).  Pada awalnya Allah menawarkan  tugas kholifah  yaitu amanah yang amat urgen itu kepada langit, tetapi langit menolaknya karna merasa tidak sanggup mengembannya. Kemudian di tawarkan kepada bumi, bumipun menolaknya. dan ditawarkan kepada gunung, gunungpun tidak menyanggupinya. Ketika itu hanya manusialah yang menyanggupi amanah yang Allah tawarkan, Sehingga Allah mempercayakan amanahnya kepada manusia.
Manusia sebagai makhluk yang terdiri dari rukh dan jasad yang dimuliakan Allah dengan tugas ibadah dan kedudukan sebagai kholifah dimuka bumi memiliki potensi kelebihan yang Allah berikan di bandingkan dengan makhluk lainnya, yaitu manusia diberikan hati,akal dan jasad.
 Dengan hati, manusia membentuk kemauan atau keputusan sampai  timbullah keyakinan pada dirinya. Dan dengan hati pula manusia bebas memilih Qs.90:10. Dengan  Akalnya manusia mampu membentuk pengetahuan, dan dengan jasadnya manusia diberikan kemampuan untuk beramal Qs.9:105.

Pada dasarnya Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai wakil Allah manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi kekuasaan untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang Qs.7:176, Nauzubillah…
Oleh karna itu manusia hendaknya memahami tugasnya sebagai kholifah Allah, dan mengetahui makna tujuan ibadah dalam memikul amanah sebagai kholifah, dan termotivasi untuk menjadikan seluruh aspek hidupnya sebagai pengabdian kepada Allah. Allohu A’lam..

Jumat, 26 Maret 2010

CERMIN HATI


”…hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.” (Bimbo)

Hati menjadi sandaran ketulusan, keikhlasan, kesabaran dan tentunya juga cinta. Orang yang hatinya bersih selalu dapat menetramkan orang-orang disekitarnya, artinya dapat membawa kedamaian, kesejukan sekaligus kehangatan. Kalau seseorang hatinya bersih akan memancar cahaya diaura wajahnya, karena keikhlasan mampu mengikat kebencian dan melenturkan amarah. Tentunya harus melalui proses bagaimana seseorang akan menemukan inti kedamaian, tidak lain harus sering muhasabah dan tazkiyatun nafs. Sebagaimana firman Allah, ”.....Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram,” (Ar-Ra’d:28).

Hati sendiri dalam bahasa Arabnya disebutkan sebagai Al-qalbu, dengan makna al-lubbu yang artinya hati, isi, lubuk hati, jantung, inti. Al-Qalbu juga dapat dimaknai sebagi Al-aqlu yang artinya akal. Sedang Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa hati bagian dari Akal. Karena akal menurutnya adalah perpaduan harmonis antara rasio dan rasa. Rasio landasannya adalah otak sedangkan rasa landasannya adalah hati.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, banyak membahas masalah hati. Menurutnya bahwa dalam diri manusia terdapat empat macam sifat, yaitu sabu’iyah (kebuasan), bahimiyah (kebinatangan), syaithaniyan (kesetanan), dan rabbaniyah (ketuhanan). Semua sifat itu berkumpul dalam hati. Masing-masing berebut pengaruh, tergantung manusianya sendiri, sifat mana yang akan dipilih untuk mewarnai dirinya. Jika sifat rabbaniyahnya berhasil mengalahkan dan mengendalikan ketiga nafsu yang lain, maka yang akan timbul adalah sifat-sifat yang baik, seperti iffah (menjaga diri), qana’ah (merasa cukup), istiqamah (konsisten), sakinah (tenang), zuhud (tidak suka dunia), wara’ (menjauhi perbuatan dosa dan syubhat), takwa, gembira, malu, jujur, berani, dermawan, suka menolong, sabar, tahan menderita dalam perjuangan hidup, memafkan, teguh pendirian, mulia, cerdas dan sebagainya.

Nabi saw bersabda, ”Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bercahaya, maka itu adalah hati orang mukmin. Dan, hati yang hitam lagi terbalik maka itu adalah hati orang kafir, dan, hati yang tertutup yang terikat tutupnya maka itu adalah hati orang munafik serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Perbuatan seseorang dalam pergaulan sehari-hari akan menentukan gambaran hati orang tersebut sebagaiman teori cerminnya Al-Ghazali, hati ibarat cermin, kalau setiap hari dibersihkan dengan taubat dan amal shalih, hati akan gemilang dan akan sanggup memantulkan cahaya dengan baik, bahkan seseorang bisa melihat dinya sendiri dengan baik sehingga mampu mewujudkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya, sebagaimana pepatah Arab, ”man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” siapa yang mengenal dirinya, maka sesungguhnya dia kan mengenal Tuhannya. Di samping itu pula perbuatan baik akan menambah jelas cermin hati, cahayanya dan cemerlangnya, sehingga kebenaran akan bersinar dalam hati. Kata Rasulullah, ”Apabila Allah menghendaki kebajikan kepada seseorang hamba, maka Dia akan menjadikan penasehat baginya dari hatinya.” (HR. Ad-Dailami).

Sebaliknya perbuatan jahat, jelek dan tercela akan memburamkan cermin dan menimbulkan kerak yang semakin lama akan sulit dibersihkan, sehingga hati tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin dan mencari jawaban atas hakikat perbuatannya. Ia menjadi terhijab dari rahmat dan hidayah Allah.swt. Sebagaimana Allah berfirman,”Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14). ”....kalau Kami menghendaki, tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran) lagi.’ (Al-A’raf:100)

Biar hati tidak terkunci mati, seseorang harus sering membersihkan kotoran dan noda yang menempel di hati. Jangan menunggu waktu, mulailah saat ini dengan istigfar dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Karena kalau dosa-dosa kecil menjadi kebiasaan akan menggumpal menjadi dosa besar, dan apabila sudah menggumpal besar kebenaran akan jauh darinya, nasehat-nasehat kebajikan agama akan terpental tidak mempan lagi dan lagi tidak bisa bertanya kepada suara hatinya apabila sebuah permasalahan datang, serta sulit mengambil kesimpulan kebijaksanaan dalam memproses hidup sehingga tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri apalagi orang bvanyak. Sebab hati yang mati tertutup dari rahmat Allah swt. 

Kamis, 18 Maret 2010

Bahaya Mabuk Asmara,(Al isyiq)


Ibnu Taimiyah berkata : Mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusaak agama dan akhlaqnya, lalai akan seluruh kebaikan agama dan dunia, dan akibat buruknya bisa mnejadi berlipat ganda. Bahkan jatuh cinta karena rupa yang diharamkan dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan, semakin dekat seorang kepada kemusyrikan, semakin jauh seseorang dari keikhlasan. Semakin jauh seseorang dari keikhlasan maka semakin hebat pula cintanya rupa (karena wajah). Ibnu Hazm berkata; Berapa banyak orang yang terpelihara aibnya, tertutup rapat hijabnya, namun gejolak asmara berhasil menyingkap semua tabir dan membuka semua rahasia dan meruntuhkan pagar-pagarnya”.

Muhammad Ibrahim Al-Hamd dalam muqaddimah bukunya “Al-‘Isyqu” mengatakan Betapa banyak duka nestapa dan rasa pahit yang dirasakan oleh orang yang di mabuk cinta. Mabuk asmara adalah penyakit yang berbahaya, merusak jiwa, mendatangkan perasaan gelisah dan gundah gulana. Siapa saja yang mengarungi samudra cinta pasti akan di permainkan oleh riak gelombang. Kebinasaan lebih dekat kepadanya dari pada keselamatan.

Ibnul Qayyim Berkata:
Mahabbah (cinta) yang bermanfaat itu terbagi tiga, yaitu: Mahabbatullah ((cinta kepada Allah), Mahabbah fillah (cinta karena Allah) dan mahabbah (cinta) kepada sesuatu yang dapat membantu kita semakin taat kepada Allah dan menjauhi larangannya. Kemudian Mahabbah (cinta) yang membahayakan terbagi tiga pula, yaitu: al-Mahabbah ma’ Allah (mencintai sesuatu disamping mencintai Allah), Mahabbah terhadap perkara yang di benci Allah dan Mahabbah yang dapat memangkas cinta seseorang kepada Allah atau menguranginya.

Jika Cinta Terbalas Dusta
Betapa banyak duka nestapa dan rasa pahityang dirasakan oleh orang yang di mabuk cinta.Mabuk asmara adalah penyakit yang berbahaya, merusak jiwa, mendatangkan perasaan gelisah dan gundah gulana. Siapa saja yang mengarungi samudra cinta pasti akan di permainkan oleh riak gelombang. Kebinasaan lebih dekat kepadanya dari pada keselamatan.

Cinta di Tolak dukun Bertindak
Orang yang mabuk cinta kemudian pergi ke dukun, maka ia telah menyungkurkan wajahnya kedalam jurang neraka jahannam. Menggiring dirinya kepada pedihnya siksa
dan kelak akan tertuang dalam gelasnya air mendidih dineraka yang menyala-nyala.Dan cinta karena kekuatan sihir akan cepat berakhir
*****
Bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah mensucikan kita kembali dengan cara dipisahkannya kita dari orang yang kita cintai. Biarlah ia pergi jika keberadaannya disisi kita hanya menambah dosa dan kemaksiatan.
Jangan terlalu larut oleh rasa kecewa, karena hanya akan menyia-nyikan waktu hidup yang tidak berguna. Yakinlah, Allah akan memberi yang terbaik dari apa yang kita pikirkan. Apalagi orang yang selalu kita pikirkan, belum tentu memikirkan kita.
Tetaplah jaga kesucian diri, jangan terperosok ke lubang maksiat kedua kali. Serahkan hidup kepada Allah dan bersabarlah dari ujian yang sedang kita hadapi. Seorang muslim seharusnya mampu menahan diri dengan bersikap tabah. “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan menharap keridhoan-Nya”.(Qs. Al-Kahfi :24)
Lakukan intropeksi diri, ternyata cinta yang selama ini kita pertahankan, justru membuat kita banyak melupakan kewajiban sebagai hamba Allah. Kita sibuk mengingat si dia, kita pasrahkan diri kepadanya dan kita menjadi hamba hawa nafsu kita sendiri.
Jangan tangisi ketika si dia mendustai, tetapi tangisilah diri kita yang sedang terlelap dalam buaian dosa. Memang dia telah membuat hidup kita berkesan. Tetapi ketahuilah, dia juga telah meninggalkan saham dosa yang tidak sedikit.
Takutlah kamu kepada Allah, dimana saja kamu berada, dan ikutilah perbauatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya Dia (Allah) akan menghapuskannya (perbuatan buruk itu)
Rasulullah bersabda: “Tali iman yang kokoh adalah saling menolong (setia) karena Allah, saling bermusuhan karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah pula “ (Hr. Bukhari).

Jangan biarkan Hati Terkotori
sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka baik pula seluruh anggota tubuh; dan apabila ia jelek, maka jelek pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah; ia adalah hati” ( Hr. Bukhari Muslim )

Catatlah dalam hati kita, apa sesungguhnya penyebab utama kotornya hati!, ia adalah kemaksiatan. Racun yang sangat ampuh mengotori dan mematikan hati. Hingga pengaruhnya dapat memalingkan ketaatan kita kepada Allah. Dan secara umum, kenapa kesucian hati cepat terkotori dan sulit untuk di bersihkan?. Hal itu disebabkan oleh tiga faktor.

Pertama adalah syahwat, yang cenderung lebih mendahulukan hawa nafsu dari pada ketaatan. Karena ia timbul dari jiwa hewani yang sering bertentangan dengan fitrah kebenaran.
Kedua adalah syubhat; menyebabkan hadirnya keragu-raguan tentang agama Allah, sehingga akhirnya dapat memalingkan keyakinan. Syubhat timbul dari sumber yang bernama kebodohan.
Dan ketiga adalah amarah; ia adalah pintu yang dapat memalingkan tabiat. Kebenaran dalam pandangan orang yang pemarah dapat berubah menajdi kebathilan.

*****
Ketika kesucian hati sudah terkotori
sulit bagi kita menangkap sinyal kebaikan.
sebab bagi hati yang kotor kepedulian akan kebenaran sudah terkalahkan dengan kebathilan, karena hawa nafsu sudah menjadi pemimpin hidupnya.Kebodohan adalah supirnya
dan kelalaian adalah kendaraan bagi baginya.
********