Saudara-saudaraku....
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota
Jakarta, lebih
baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling
minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia
memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan
dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai
kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai
diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita
berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak
bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak
bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti
diperbaiki.
Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab
kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak
terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara
tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam
bahasa Al-Qur’an, "Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata
yang tidak diperbuatnya".
Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak
suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang
berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka
tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.
Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya
daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik
insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti
setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.
Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita
ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah
tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan
menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang
hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang
menyebutnya materialistis.
Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak.
Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi.
Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di
dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang
parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya.
Nanti pelan-pelan akan
menjadi begitu.
Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana
di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya
dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia punya mobil tidak
sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis
tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya
tertitipi.
Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma
menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana
kantor yang iri dan dengki jadi minimal.
Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak
bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup
akan bersahaja dan proporsional.
Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum
karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini
kesempatan kita buat berdakwah.
Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting
terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan
standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena
kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan
rezekinya.
Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya
apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus.
Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus,
berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat
krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia
tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada
rezekinya.
Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin
segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah.
Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah.
Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.
Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita
itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan
tingkat tawakal. Allah berjanji "Aku adalah sesuai dengan prasangka
hamba-Ku". Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.
Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita.
Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan
kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan
orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena
tidak mengerti mau kemana.
Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini
ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa
mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar
menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang
menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik
bagi diri kita.
Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita
adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang
ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,"Barangsiapa yang pandai
mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan
takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai
mensyukuri yang telah ada.
Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik
lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri
nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah
tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi
uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang
namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah.
Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.
Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu
adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan
bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu
adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada
hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk
termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu
akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap
menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk
perawatannya.
Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya'. Makin
mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih,
lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut
dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi
iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman
tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup
bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana,
kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.
Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil.
Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya
orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja
akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu
bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.
Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor
belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting
sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.
Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita
binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah
rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup
proporsional.
Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan
tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya
sedikitpun sampai sekarang. Ada
orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah
hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin
kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya
dicicil, dikredit. Ada
juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi
terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan
menjadi mulia.
Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang
mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak
menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.
Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir.
Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa
tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil
makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi
demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki
kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan
setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada
pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.
Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus
dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting
kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.
Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya
untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah
saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.
Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah
atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita
lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang
yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali
bertambah dan bertambah.
Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita
tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit
seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin
kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan,
tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa
terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita
jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa
kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.
Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit.
Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu
perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang
barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi
mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.
Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat
mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang
yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian
kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah
barang-barang yang tidak berharga tersebut.
Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika
kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita
tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan
mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.
Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita
daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat
tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan
rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan
orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.
Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita
tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana
ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih
saja babak belur.
Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat,
ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita
mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.
Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi
juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat
menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal
yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan
kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak
akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang
bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat
sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri
untung orang lain tidak.
Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya
diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi
Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan
menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta.
Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis,
pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan
iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang
mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah
namanya keuntungan.
Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong
orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan
hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk
menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.
Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita
bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah
bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di
rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.
Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan
biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk
membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah
karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti
ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif
saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.
Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun
tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti
ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi
orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada.
Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa
kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang,
dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika
kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan
mengalah berhenti barang lima
menit tetapi membuat banyak orang bahagia.
Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis
ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana
kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak
membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.
Alhamdulilahirobil’alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Yukk!!!